Minggu, 17 Desember 2017

Murder on the Orient Express

Sumber gambar : Instagram cgv.id
Murder on the Orient Express adalah film dari novel Agatha Christie dengan risiko tinggi, yaitu kebosanan. Namun Kenneth Branagh sadar betul akan hal itu. Dia berusaha agar penonton--apalagi pembaca novel Agatha Christie--tidak kecewa. Maka selain menjadi sutradara, dia juga memerankan tokoh utamanya, yakni Hercule Poirot. Serta diisi dengan aktris dan aktor papan atas untuk mengatasi kebosanan tersebut--terutama banyaknya dialog tanya jawab. Di antaranya yang pernah menjadi nominasi dan pemenang piala Oscar: Judi Dench, Penelope Cruz, Willem Dafoe, Michelle Pfeiffer dan Johnny Depp.

Film ini bercerita tentang 14 orang asing yang berada dalam satu kereta, di mana 1 orang dibunuh, 12 orang dicurigai sebagai pembunuhnya, sementara 1 orang memecahkan misteri pembunuhan tersebut. Adalah Hercule Poirot, seorang detektif yang berusaha mengungkapkan siapa pembunuh itu. Dan tentu, kita sebagai penonton 'dipaksa' ikut membantunya dari gambaran dan alibi para orang yang dicurigai.

Bagi penyuka film misteri, kriminal, atau psikologi, dan belum membaca novelnya, kamu bisa saja menerka atau menganalisis siapa pembunuhnya. Namun di akhir cerita, kamu akan tetap 'kalah' dengan film ini. Sebab, tebakanmu 'tak sepenuhnya benar', atau barangkali benar-benar 'salah terka' karena ada hal-hal yang tak pernah kamu kira. Tak percaya? Buktikanlah!

Saya sungguh menyukai motif pembunuhannya. Sebab, kadang ada keadaan di mana keadilan bukanlah seimbang, tapi sama rata.

Minggu, 03 Desember 2017

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN NASKAH

Sebagai orang yang suka menulis, sering kali kita mendapat info lomba menulis. Bila merasa cocok atau setuju dengan semua persyaratannya, tentu saja kita langsung ingin mengikuti lomba tersebut. Namun, ada pula persyaratan lomba menulis yang mengharuskan peserta melampirkan juga 'Surat Keaslian Naskah' atau 'Surat Pernyataan Keaslian Naskah'. Buat kamu yang belum tahu atau masih bingung bagaimana membuat surat tersebut, berikut saya berikan contohnya :


Bekasi, 1 Desember 2015.

Dengan hormat.
Kepada panitia atau penyelenggara Lomba Menulis Cerpen 2015 Majalah Aminah dengan tema ‘Ayah dan Aku’. Bersama surat ini saya menyatakan bahwa cerpen berjudul ‘Anak Bapak’ asli karya saya, bukan hasil plagiat, terjemahan atau saduran. Belum pernah dipublikasikan di media manapun, baik itu cetak atau elektronik. Cerpen ini pula tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
Pernyataan ini saya buat dengan sadar.

Terima kasih,

Ari Keling.


Kadang, ada juga panitia lomba yang sudah membuat 'Surat Penyataan Keaslian Naskah'. Jadi, kita tinggal mengisi saja. Misalnya seperti ini :


Bekasi, 23 Desember 2015.

Dengan hormat.
Saya yang bertanda tangan di bawah ini;
Nama lengkap :
Nama pena :
KTP         :
Alamat :
E-mail :
Telepon         :

Dengan ini menyatakan bahwa;
Karya berjudul ANAK BAPAK adalah hak cipta milik saya, sepenuhnya karya saya, bukan menjiplak atau mengklaim dari karya orang lain.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Dan saya bertanggung jawab secara hukum atas karya tersebut di atas. Dengan menyertakan karya ini dalam Lomba Menulis Cerpen 2015 Majalah Aminah dengan tema ‘Ayah dan Aku’ saya menyatakan menyetujui persyaratan panitia.


(Nama Lengkap).



Itu adalah contoh misal kita mau mengikuti lomba cerpen. Jika lombanya bukan cerpen, tinggal diganti saja menjadi novel atau lainnya. Dan jangan lupa juga tanggal pembuatan serta siapa panitia atau penyelenggara lomba tersebut.

Semoga bermanfaat.

Salam,
Ari Keling.

Senin, 27 November 2017

FAN

Sumber gambar atau poster : http://images.financialexpress.com/2016/04/fan-bh-6.jpg
FAN bercerita mengenai seorang pemuda berusia 20 tahunan bernama Gaurav (Shah Rukh Khan) yang sangat mengidolakan mega bintang bernama Aryan Khanna (Shah Rukh Khan). Dari tanah kelahirannya di New Delhi, dia melakukan perjalanan ke kota impiannya, Mumbai, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada sang idola yang tengah berulang tahun. Ketika rencananya tidak berjalan sesuai yang dia harapkan, cinta dan hasratnya pada sang idola berubah menjadi obsesi yang membahayakan.

---------------

"Life risk pe laga di aapse milne ke liye."
"Aku membahayakan hidupku untuk bertemu denganmu."
Itulah kalimat yang diucapkan Gaurav ketika berhasil bertemu dengan Aryan Khanna. Pertemuan itu karena Gaurav--meyakini--telah membela, melindungi, serta membuat Aryan senang. Padahal, Gaurav sudah melakukan tindak kejahatan yang tidak bisa dibenarkan oleh Aryan, yang membuat idolanya itu merasa sangat terganggu--bahkan secara hukum pun Gaurav tetap salah apa pun alasannya. Di sini saya melihat Gaurav memang seorang penggemar yang luar biasa.

Aryan yang merasa terusik dengan tindakan dan segala ucapan Gaurav, akhirnya mematahkan hati penggemarnya itu. Di sinilah saya melihat perubahan seorang mega bintang di depan dan balik layar. Saya pun merasakan kecewa, sama seperti Gaurav yang tak menyangka idolanya tidak seperti yang dia kira selama ini. Namun, di sisi lain saya memahami apa yang dirasakan oleh Aryan, bahwa mega bintang pun manusia; bisa marah, kecewa dan emosi. Ya, bahwa mega bintang tak bisa bertemu dengan semua penggemarnya, sebab dia punya kehidupannya sendiri.

Sampai akhirnya Gaurav melakukan hal-hal--bisa dibilang mengerikan--setahun kemudian. Seperti balas dendam, dia membuat hidup Aryan tidak tenang. Di bagian ini sampai menjelang akhir film, saya mulai menyadari bahwa ada yang tak beres dengan Gaurav. Ya, sesungguhnya Gaurav bukan memiliki masalah dengan Aryan, melainkan dia punya masalah dengan dirinya sendiri. Saat itu saya merasa ada kesedihan yang coba saya pahami. Ya, saya bisa memaklumi--mungkin lebih tepatnya mengerti--dengan ending film ini. Sampai kapan pun Aryan tidak akan bisa mengerti segala pikiran Gaurav. Bahkan, dunia pun tak akan mampu memahami seorang Gaurav. Ya, Gaurav yang sesungguhnya punya masalah dengan dirinya sendiri, dialah yang bisa mengalahkan dirinya sendiri; mengobati dirinya sendiri. Sebab, hanya Gaurav yang mengerti dirinya sendiri.

Ah ya, dalam film ini Shah Rukh Khan berperan ganda dengan special make up-effects. Greg Cannon, Make-up artist asal Hollywood peraih Oscar, yang membuat tampilan wajah SRK di usia 20 tahun. Ini film bollywood tanpa adanya nyanyian di dalamnya. Hanya ada OST-nya saja.

Salam,
Ari Keling.

  • Ulasan ini pernah saya posting di akun facebook saya tanggal 18 April 2016.

Sabtu, 11 November 2017

THIS IS MY HOUSE .... (The Conjuring 2: The Enfield Poltergeist)

Sumber poster : http://www.impawards.com/2016/conjuring_two_ver2.html

Saya suka sekali dengan film horor yang membuat kalimat atau perkataan yang pada akhirnya menyusup dalam ingatan. Jika di film 'Case 39' ada dialog "Why, Emily? Why, Emily?" dan di film 'The Conjuring' ada 'Miss me?', maka di film 'The Conjuring 2' ada 'This is my house ....'. Kali ini tentu saya akan coba mengulas film 'The Conjuring 2'. Menurut saya tidak spoiler. Pasalnya, sebagian info yang akan saya bicarakan sebenarnya sudah disajikan--baik di blurb maupun di media--terlebih dahulu sebelum filmnya tayang.

Film 'The Conjuring 2: The Enfield Poltergeist' ini menceritakan kisah nyata, yaitu salah satu kasus terseram pada tahun 1977 hingga 1979 yang terjadi di Inggris, tepatnya di Enfield, pinggiran kota London. Adalah Peggy Hodgson, seorang single mother yang memiliki empat anak: Janet, Margaret, Billy dan Johnny. Kisah ini berpusat pada Janet, gadis 11 tahun yang diganggu oleh makhluk halus di rumahnya.

Dari cuplikan pertama dan kedua film ini, buat saya sangat menjanjikan. Ya, terbukti di bagian awal langsung mencekam dari Lorraine yang melakukan astral project. Dan lagi, mungkin banyak penonton yang tidak sadar atau tidak tahu, bahwa kita sebagai penonton sudah 'dihajar' terlebih dahulu oleh musik buatan Joseph Bishara. Saya yakin sekali itu konsep James Wan dkk bagaimana menimbulkan kesan seram, teror atau angker di awal. Ya, salah satunya lewat musik. Film Wan memang begitu.

Waktu selesai menonton 'The Conjuring' yang pertama, saya sangat 'terganggu' atau penasaran dengan kisah masa lalu Ed dan Lorraine Warren; saat Ed bilang ada yang dirahasiakan oleh Lorraine kepadanya. Pasti ada kawan-kawan yang inget atau ngeh soal ini. Nah, di sekuelnya ini rahasia itu dibongkar, karena apa yang dulu Lorraine 'lihat' saat menangani kasus sejenis, kali ini terlihat lagi. Rahasia yang pada akhirnya diberitahu kepada Ed tentu membuat keduanya takut setengah mati.

'The Conjuring' yang pertama menuai sukses. Di Muvila.com menyebutkan, pendapatan box office secara global sebesar 318 juta dolar AS dari bujet produksi 20 juta dolar AS. Bukan hanya itu, film arahan James Wan ini dianggap terlalu seram, sampai MPAA (Motion Picture Association of America) memberi rating R (Restricted). Nah, lantaran hal ini saya yakin sekali tentu ada beban yang Wan rasakan saat menggarap sekuelnya. Pasti banyak pertimbangan yang Wan pikirkan. Maka apa yang saya saksikan film sekuelnya ini banyak perbedaan meski konsep besarnya sama. Di film ini saya melihat ada kematangan lebih dan kejelian seorang Wan. Misal dialog--kalau tak salah--tentang kadang kita percaya dengan apa yang tidak dipercaya orang. Kalimat itu bukan sekadar kalimat, ada maksud dan tujuan tuk film ini. Contoh lain saat Ed membetulkan keran di wastafel rumah Peggy, ini juga bukan hal remeh, ada tujuannya. Yakni, pada akhirnya Ed mau atau menawarkan diri memeriksa ruangan bawah. Di sana Ed membetulkan saluran air. Kesan yang muncul ke saya, bahwa Ed memang bukan hanya paranormal, tapi dia juga bisa membetulkan hal-hal semacam itu. Jadi tidak ujug-ujug. Kira-kira begitu. Jangan tanya soal kemunculan hantunya, Wan paham betul bagaimana memunculkan hantu, arwah atau iblis di waktu yang tepat. Film ini pula lebih gereget daripada yang pertama. Ya, dalam cerita ada tekanan dari media dan dari orang-orang yang tak percaya hantu. Apalagi pada saat itu ada saja kejadian serupa yang ternyata sebuah kebohongan, terlepas dari orang atau keluarga itu mau tenar atau dapat uang dll. Sehingga pihak gereja pun tak bisa langsung menangani kasus seperti itu karena reputasi. Nah, Peggy yang sedang susah masalah ekonomi ini jadi dianggap punya modus seperti itu. Belum lagi soal Janet yang tersiksa kelelahan tak bisa tidur tenang, tentang dia yang tak dipercaya banyak orang, dia yang beda atau tak normal, dia yang ditakuti banyak orang, sampai kemudian tak punya teman. Ada keharuan yang kadang tiba-tiba muncul di film ini, guys. Dan lagi, selain ada iblis, ada pula arwah Bill Wilkins dan hantu orang bengkok. Ya, buat saya film ini lebih gereget dari sisi cerita. Mungkin benar ini kejelian James Wan agar sekuelnya ada pembeda, atau barangkali kisah nyatanya memang seperti itu dan diperkuat atau dimatangkan oleh Wan.

Film berdurasi 133 menit ini menurut saya agak lamban daripada teror di film pertamanya, sehingga jika dibandingkan dengan film pertama jadi kalah seram. Rasa mencekam yang sudah dibangun di awal pun berangsur-angsur berkurang menuju pertengahan. Sekali lagi jika itu dibandingkan dengan film pertamanya. Menurut saya ini risiko dari pembeda itu; beberapa bahasan di luar kisah Janet itu sendiri. Meski penyelesaiannya terlalu cepat, tapi 'The Conjuring 2' tetap memikat.

Saran saya, jangan sampai telat nonton film ini. Pastikan sudah duduk di bangku sebelum film dimulai. Jangan beranjak pulang dulu karena di akhir ada gambaran keluarga Peggy Hodgson yang aslinya, baik foto saat kumpul keluarga maupun saat kejadian seram itu tengah berlangsung.

Salam,
Ari Keling.

Rabu, 08 November 2017

Tidak Ada Kemenangan Dalam Perang (Battle of Surabaya)

Sumber poster : Fanpage Battle of Surabaya The Movies.

Film yang kabarnya dilirik Disney ini dibuka dengan sangat bagus, dari segi gambar dan sound yang menggelegar. Mungkin karena sejak awal saya tidak akan mengira sampai sebagus itu. Sampai saya spontan berkata, "Wah ... gila keren banget ini." Apalagi saat proklamasi dibacakan, jujur saya merinding. Tergetar juga hati saya ketika melihat pengibaran bendera Indonesia setelah bendera Belanda berhasil dirobek warna birunya di hotel Yamato. Lantas saya diajak untuk harap-harap cemas, atau mungkin lebih tepatnya saya digiring untuk benar-benar menantikan peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya. Tapi sayangnya--mungkin ini hanya menurut saya--pada saat perang itu terjadi kejadiannya kurang diperlihatkan. Kenapa menurut saya bisa begitu? Ya, karena mengacu pada judul dan saya yang merasa diajak untuk benar-benar menantikan peristiwa itu terjadi. Sebenarnya--lagi-lagi menurut saya--film ini lebih kepada tentang bocah bernama Musa, di mana dia dipercaya menjadi kurir surat penting--tentang pergerakan pahlawan dan kode-kode perlawanan terhadap penjajah--maupun surat para pejuang atau pahlawan kepada keluarga mereka. Buat yang sudah menonton, mungkin akan tertawa ketika Musa berkata, "Aku hanya ingin makan kenyang dan tidur nyenyak." Benar, saya pun tertawa. Tapi ketika Musa berkata seperti itu lagi untuk yang kedua kali, saya agak merenung. Saya langsung mengartikan dengan kalimat lain dari ungkapan bocah itu, "Aku ingin merdeka, sehingga bisa dengan tenang melakukan apa saja." Kira-kira seperti itu.

Bagian paling mengharukan buat saya adalah ketika Musa membaca surat-surat para pejuang atau pahlawan yang hendak dia kasih kepada keluarga mereka, tapi dia tak tahu harus menyampaikan surat-surat itu ke mana sebab segalanya telah luluh lantak. Ya, setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600-2.000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada tanggal 10 November 1945 ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Film ini ditutup dengan sangat manis. Didedikasikan bukan hanya untuk para pejuang atau pahlawan Indonesia, tapi juga untuk perang di seluruh dunia. Seperti yang disampaikan mendiang Ibu Musa kepada Musa, "Tidak ada kemenangan dalam perang. Jangan dendam."

Semoga weekend besok lebih banyak lagi yang nonton film ini. Terakhir saya ingin sampaikan kepada seluruh yang terlibat dalam film ini, "Terima kasih untuk film yang sangat keren ini."

Salam,
Ari Keling

Yang Jahat Bukan Rangga, Tapi Cinta! (Ada Apa dengan Cinta? 2)

Sumber poster : https://www.google.co.id/search?q=ada+apa+dengan+cinta+2&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjE76rS-a7XAhWCvbwKHRqLChAQ_AUICigB&biw=1024&bih=420#imgrc=tyzW674_zpkQYM:
Ya, buat saya yang jahat adalah Cinta, bukan Rangga. Meski pada akhirnya Rangga tetap bisa dibilang jahat, tapi itu hanya dari sudut pandang Cinta. Dan dalam film ini, saya rasa tak adil jika berbicara atau melihat keutuhan cerita hanya dari sudut pandang Cinta dan Rangga saja. Pasalnya, ada hati yang tersakiti di antara mereka; ada sosok yang—menurut saya—sebenarnya penting dalam film ini. Siapa? Nanti ya. Ah ya, maaf kali ini saya (terpaksa) spoiler. Jadi buat kamu yang tak suka dengan spoiler, sebaiknya jangan baca. Tapi kalau tetap mau baca ya silakan.

Di bagian awal saya suka sekali dengan Karmen. Wajahnya bercerita banyak dengan apa yang dilewatinya sebelum film ini dimulai—tentu dengan tambahan cerita dari Cinta dkk. Ya, tentang kehidupannya 14 tahun yang tak digambarkan dalam film ini. Sehingga saya jadi berharap kalau Karmen ini adalah tokoh penggerak cerita, dan memang dia punya ‘tugas’ seperti itu. Terbukti dia yang kali pertama melihat Rangga di Jogja, dia yang usul kepada kawan-kawannya tuk menceritakan itu kepada Cinta, dia pula yang punya alasan mengapa Cinta harus menemui Rangga karena masa lalunya yang pahit, serta dia juga yang bandel diam-diam mempertemukan Rangga dengan Cinta. Saya suka sekali dengan Karmen di film ini.

Saya terus disuguhkan kembali tokoh-tokoh dengan karakter yang masih tetap kuat—bisa dibilang ini mengenalkan kembali karakter-karakter Cinta dkk yang mengingatkan saya pada kelucuan dan persahabatan di film pertamanya. Hanya saja ketidakhadiran Alya—yang memang sejak trailer-nya rilis tak ada—membuat saya kecewa. Sebab, sejak ‘Ada Apa dengan Cinta?’ di tahun 2002 lalu Alya-lah tokoh yang saya sukai. Hehe. Dan yang lebih menyedihkan lagi Alya diceritakan meninggal dunia karena kecelakaan. Tak ada cara yang lainkah? Sakit, misalnya. Hiks.

Di bagian awal pula ada sosok yang tadi saya bilang penting, yaitu Tristan. Dia ini pacarnya Cinta; tunangannya Cinta, yang saat itu bilang, “Semalam saya melamar Cinta, dan jawabannya ... ya!” Saat itu saya bergumam dalam hati, film ini akan seru. Tentu saya tahu Rangga akan kembali ke Jakarta, tentang jurang kebodohannya yang ingin memiliki Cinta sekali lagi. Nah, kehadiran Tristan ini akan menjadi batu, bahkan bisa menjadi tembok tinggi dan besar buat Rangga. Kemunculan Tristan beserta dialognya itu yang membuat saya—mungkin juga penonton lain—berharap betul film ini akan menguras emosi atau katakanlah luapan perasaan. Tristan adalah jawaban juga buat saya. Sebab, saya juga bertanya, ‘Masa iya Cinta tak punya pacar atau pada akhirnya suka dengan lelaki lain setelah Rangga meninggalkannya bertahun-tahun?’ Ini juga jadi logika cerita terlepas apa pun alasan Cinta dekat dengan Tristan selepas Rangga.

Cinta dkk ke Jogja. Kalau tak salah ada urusan pekerjaan atau melihat pameran seni, tapi sekaligus liburan. Mereka semua sepakat tidak membawa pasangan. Ini masih masuk akal kok. Berangkatlah mereka. Dari New York Rangga pun ke Jogja. Nah loh kok kebetulan? Ya, ada kebetulan di sini, tapi kebetulan ini saya sukai. Sebab, menurut saya Rangga punya alasan kuat kenapa pada akhirnya dia balik ke Jakarta dan ke Jogja. Sebagai orang yang suka membuat cerita, saya pasti melakukan hal yang sama soal kebetulan seperti ini. Yaitu alasan yang kuat dari adanya kebetulan tersebut. Ada cerita tentang keluarga Rangga, terutama tentang ibunya yang harus Rangga temui.

Akhirnya Cinta bertemu dengan Rangga berkat Karmen meski awalnya Cinta menolak. Saya juga menunggu alasan kuat kenapa Rangga memutuskan dan meninggalkan  serta membiarkan Cinta sakit hati bertahun-tahun. Rangga yang memang sederhana saat itu malu melihat Cinta dari keluarga yang sangat mapan. Dia yang masih muda, bahkan bilang usia 23 tahun—sebenarnya sih tidak muda juga ya—hidupnya sedang berantakan, dan berpikir dia hanya akan membuat Cinta susah. Maka, Rangga memutuskan Cinta sebagai jalan keluar. Buat saya alasan itu cukup kuat dan masuk akal. Tentu sebagai lelaki yang hidup sangat sederhana dan sedang kesulitan, ketakutan yang dirasakan Rangga itu manusiawi. Apalagi dia menegaskan dia yang saat itu masih muda. Maka saya bilang, sebenarnya Rangga bukan jahat—meski dari sudut pandang Cinta bisa dibilang jahat. Dia hanya pengecut tak bisa atau berani menjelaskan itu kepada Cinta di waktu yang lalu.

Lantas Cinta dan Rangga jalan seharian penuh. Sampai akhirnya Cinta diantar ke vila oleh Rangga. Selama pertemuan itu saya tahu bagaimana perasaan Cinta. Tentu saja Cinta masih memiliki cinta kepada Rangga. Jelas sekali terlihat. Rangga pun tahu itu. Hehe.

Ah ya, Cinta dihadiahi puisi oleh Rangga yang dibuat saat perjalanan ke Indonesia. Buat saya, itu puisi pamungkas atau jagoannya, hanya saja menurut saya sound atau musik saat puisi itu dibacakan kurang klop. Entah kenapa musiknya tidak mendukung, padahal itu harusnya megang banget emosi penonton. Sayang sekali. Ya, puisi yang pada akhirnya Cinta tahu kalau Rangga masih menginginkannya, yang pada akhirnya membuat dia galau; melihat hatinya lebih dalam siapakah yang sebenarnya dia cintai.

Rangga menyusul Cinta yang pulang ke Jakarta dengan percaya diri kalau perempuan itu masih mencintainya. Perasaan cinta memang menuntut. Itulah yang terjadi pada Rangga. Dia ingin Cinta kembali bersamanya. Hanya saja Cinta menolak dan menegaskan ingin menikah. Tentu saja Cinta bohong. Akhirnya Rangga pergi kembali ke New York, dan sebelumnya berpapasan dengan Tristan yang mau menjeput Cinta.

Di bagian inilah si tokoh penting tidak dimainkan secara lebih. Tristan hanya minta penjelasan kepada Cinta yang akhirnya cerita tentang pertemuan dengan Rangga. Tentu saja Tristan kecewa. Tiba-tiba cerita berlanjut ke Cinta yang mengendarai mobil mengejar Rangga ke bandara, tentu saya tahu Cinta mau kembali kepada Rangga—penonton lain pun mungkin berpikir hal yang sama. Hanya saja yang membuat kecewa, tokoh Tristan yang penting ini tidak dimainkan sebagai batu atau tembok besar, dia hanya batu kerikil kecil yang mengganjal langkah Cinta dan Rangga. Padahal, film ini berdurasi 124 menit, artinya punya waktu yang sangat cukup untuk membuat adegan ... katakanlah Tristan marah-marah kepada Cinta atau terjadinya pertengkaran yang hebat antara keduanya; jadikan Tristan penghalang yang kuat. Atau dengan durasi itu bisa memilah mana bagian yang sangat penting dan bagian yang bila dihilangkan tidak mengurangi cerita itu sendiri. Tiba-tiba saja Cinta mengejar Rangga, dan saya dibiarkan menerka-nerka apa yang terjadi dengan Cinta dan Tristan sebelum itu. Padahal sebagai penonton saya butuh apa yang Tristan lakukan atau perbuat setelah tahu Cinta—sebagai calon istrinya—bertemu dan jalan bersama Rangga—mantan kekasih calon istrinya itu. Cinta meninggalkan Tristan begitu saja, kah? Tak ingatkah Cinta saat dia ditinggalkan oleh Rangga begitu saja?

Jadi, siapa yang jahat? Cinta atau Rangga?

Salam,
Ari Keling.

Ketika Si Jenius Patah Hati (Rudy Habibie: Habibie Ainun 2)

Sumber gambar atau poster : MD Pictures.
Film ini memang sudah saya tunggu lantaran trailer-nya yang menurut saya sangat menjanjikan, tentu jika dilihat dari kisah cinta antara Rudy dan Illona. Ya, dari cuplikan itulah rasanya film ini akan ‘megang’ banget emosi penonton dan bisa jadi membuat kita berkali-kali berusaha membendung air mata. Namun, sebelum menonton saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa Rudy dan Illona tak akan bisa bersama; mereka akan berpisah; ini kisah cinta mereka yang tak sampai. Lagi-lagi, semua itu saya tahu dari trailer atau cuplikannya, tentang perbedaan agama dan negara. Pun ini film prekuel Habibie & Ainun, jadi saya sudah tahu akhir kisah cinta Rudy dan Illona. Lantas mengapa saya tetap merasa film ini menarik dari sudut pandang romance atau kisah cerita mereka? Ya, tentu saya ingin tahu bagaimana kisah Rudy dan Illona yang bahkan hanya dari trailer-nya saja seperti saling mencintai dengan sangat hebat.

Sekali lagi, karena cuplikannya itu saya terlupa bahwa ini film bergenre drama tentang kisah muda sang visioner: Rudy Habibie sebelum dikenal sebagai teknokrat dan presiden Republik Indonesia ke-3: B. J. Habibie. Rudy ingin sekali membuat pesawat terbang. Dia pula ingin menjadi ‘mata air’ seperti pesan Papinya sebelum meninggal dunia agar berguna untuk orang banyak. Ya, bahkan film ini dimulai jauh sebelum Rudy sampai kuliah di RWTH Aachen, Jerman Barat. Awalnya menceritakan Rudy yang masih bocah dan hidup di Parepare, dan saat itu masih terjadi peperangan atau pengeboman oleh pesawat-pesawat penjajah—yang awalnya membuat dia membenci pesawat terbang. Saat Rudy sekeluarga dan para penduduk harus mengungsi mencari tempat yang lebih aman, yang paling saya ingat di saat genting itu dia bersikeras membawa pesawat mainannya dan sebuah buku. Sampai akhirnya dia sekeluarga ke Gorontalo karena memang Papinya berasal dari sana.

Di blurb film ini diberitahu pesan almarhum Papinya. Papinya meninggal saat menjadi imam salat sekeluarga; ketika sujud. Bagian ini sangat mengharukan. Ya, membuat seluruh penonton yang full dalam studio terdiam sedih—karena film ini ada uncur komedinya. Bahkan, saya pun diam-diam menahan sesak dalam dada. Mungkin karena saya tahu betul rasanya kehilangan seorang Bapak di saat usia masih terbilang sangat muda. Dan tentu, bagaimanpun kehilangan seseorang yang kita sayangi membuat sedih, yang pada akhirnya pula kita harus menerima. Ya, itulah hidup, setiap yang berjiwa pasti mati.

Kembali pada Rudy yang akhirnya kuliah di RWTH Aachen. Rudy hidup dalam kondisi terbatas, belajar tentang persahabatan, cinta, dan pengkhianatan bersama para mahasiswa Indonesia lainnya. Banyak konflik yang terjadi pada Rudy yang begitu ambisi dan percaya dengan cita-citanya: dari kelompok tentara pelajar Indonesia yang tak suka padanya, dari dia yang akhirnya berorganisasi dengan ikut Perhimpunan Pelajar Indonesia bahkan didaulat menjadi ketua PPI se-Eropa, dari dia yang akhirnya sakit tuberculosis tulang, dari dia yang akhirnya dikhawatirkan menjadi ancaman bagi Jerman karena Indonesia bukan bagian dari NATO; ditakutkan penelitiannya jatuh ke tangan komunis, sampai kalau tak salah dia ditawari pindah kewarganegaraan.

Saat Rudy mulai dikenal sebagai orang yang jenius, banyak gadis yang terpikat padanya. Muncullah Illona Ianovska, gadis Polandia yang memang sangat menyukai Indonesia dan pernah tinggal bersama orangtuanya di Marsawa. Padahal, sebelumnya Rudy mendapat perhatian dari gadis manis bernama Ayu—adik putri keraton Solo—yang sayangnya tak terlalu ditanggapi. Mungkin juga Rudy tidak peka. Hehe. Bisa dibilang cinta Ayu bertepuk sebelah tangan.

Rudy dan Illona jadi sering bersama setelah berkenalan. Saya sempat bingung bagaimana keduanya seperti tiba-tiba saja bisa menjalin hubungan asmara yang terlihat begitu kuat. Jika dilihat dari Rudy dan Indonesia, film ini sangat bagus. Namun jika dilihat dari cinta Rudy dan Illona, rasanya ada yang kurang dibangun sampai keduanya tampak memiliki cinta sebesar gunung. Sampai kemudian saya berpikir, ah soal perasaan memang rumit—ada perasaan hebat yang cepat tumbuh dan ada pula yang perlahan-lahan. Kira-kira seperti itulah. Atau ... mungkin karena Illona yang menyukai Indonesia dan kemudian bertemu dengan laki-laki Indonesia yang jenius. Mungkin juga karena hanya Illona, gadis yang sangat mendukung dan memercayai segala mimpi dan cita-cita Rudy. Ya, memang jika kita bertemu dengan seseorang yang percaya betul dengan semua mimpi-mimpi kita, cita-cita kita, segala kegilaan kita, betapa membahagiakan dan sulit sekali untuk dilepaskan. Atau memang barangkali kisah nyatanya seperti itu adanya.

Tibalah pada pilihan-pilihan. Mami Rudy menemui Illona, menjelaskan jika Illona benar-benar mencintai Rudy apakah dia bersedia pindah ke Indonesia dan menjadi Islam? Tentu tidak mudah. Illona yang benar mencintai Rudy sebenarnya tak paham betul apakah Rudy benar-benar mencintainya, sampai kemudian dia juga bertanya, apakah seorang Rudy pantas menerima pengorbanannya itu?

Seperti menemui jalan buntu. Illona pun mengajak Rudy untuk pergi bersama memulai kehidupan baru. Dengan kalimat lain, Rudy diminta memilih antara Indonesia atau Illona. Dengan berat hari Rudy melepas Illona. Selain dialog-dialog atau percakapan antara Rudy dan Illona yang bagus dan ‘romance banget’, saya akui ketika perpisahan mereka di stasiun pun punya ‘rasa’ yang cukup memukul dada dan membuat mata berkaca-kaca. Di saat terakhir itu pula tak lepas karena diiringi lagu yang dinyanyikan oleh Cakra Khan—Mencari Cinta Sejati—yang menjadi OST film ini.

Baiklah segitu saja. Kemudian kita menunggu Habibie & Ainun 3 dan kemungkinan ini prekuel keduanya.

Salam,
Ari Keling.