Rabu, 08 November 2017

Tidak Ada Kemenangan Dalam Perang (Battle of Surabaya)

Sumber poster : Fanpage Battle of Surabaya The Movies.

Film yang kabarnya dilirik Disney ini dibuka dengan sangat bagus, dari segi gambar dan sound yang menggelegar. Mungkin karena sejak awal saya tidak akan mengira sampai sebagus itu. Sampai saya spontan berkata, "Wah ... gila keren banget ini." Apalagi saat proklamasi dibacakan, jujur saya merinding. Tergetar juga hati saya ketika melihat pengibaran bendera Indonesia setelah bendera Belanda berhasil dirobek warna birunya di hotel Yamato. Lantas saya diajak untuk harap-harap cemas, atau mungkin lebih tepatnya saya digiring untuk benar-benar menantikan peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya. Tapi sayangnya--mungkin ini hanya menurut saya--pada saat perang itu terjadi kejadiannya kurang diperlihatkan. Kenapa menurut saya bisa begitu? Ya, karena mengacu pada judul dan saya yang merasa diajak untuk benar-benar menantikan peristiwa itu terjadi. Sebenarnya--lagi-lagi menurut saya--film ini lebih kepada tentang bocah bernama Musa, di mana dia dipercaya menjadi kurir surat penting--tentang pergerakan pahlawan dan kode-kode perlawanan terhadap penjajah--maupun surat para pejuang atau pahlawan kepada keluarga mereka. Buat yang sudah menonton, mungkin akan tertawa ketika Musa berkata, "Aku hanya ingin makan kenyang dan tidur nyenyak." Benar, saya pun tertawa. Tapi ketika Musa berkata seperti itu lagi untuk yang kedua kali, saya agak merenung. Saya langsung mengartikan dengan kalimat lain dari ungkapan bocah itu, "Aku ingin merdeka, sehingga bisa dengan tenang melakukan apa saja." Kira-kira seperti itu.

Bagian paling mengharukan buat saya adalah ketika Musa membaca surat-surat para pejuang atau pahlawan yang hendak dia kasih kepada keluarga mereka, tapi dia tak tahu harus menyampaikan surat-surat itu ke mana sebab segalanya telah luluh lantak. Ya, setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600-2.000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada tanggal 10 November 1945 ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Film ini ditutup dengan sangat manis. Didedikasikan bukan hanya untuk para pejuang atau pahlawan Indonesia, tapi juga untuk perang di seluruh dunia. Seperti yang disampaikan mendiang Ibu Musa kepada Musa, "Tidak ada kemenangan dalam perang. Jangan dendam."

Semoga weekend besok lebih banyak lagi yang nonton film ini. Terakhir saya ingin sampaikan kepada seluruh yang terlibat dalam film ini, "Terima kasih untuk film yang sangat keren ini."

Salam,
Ari Keling

Yang Jahat Bukan Rangga, Tapi Cinta! (Ada Apa dengan Cinta? 2)

Sumber poster : https://www.google.co.id/search?q=ada+apa+dengan+cinta+2&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjE76rS-a7XAhWCvbwKHRqLChAQ_AUICigB&biw=1024&bih=420#imgrc=tyzW674_zpkQYM:
Ya, buat saya yang jahat adalah Cinta, bukan Rangga. Meski pada akhirnya Rangga tetap bisa dibilang jahat, tapi itu hanya dari sudut pandang Cinta. Dan dalam film ini, saya rasa tak adil jika berbicara atau melihat keutuhan cerita hanya dari sudut pandang Cinta dan Rangga saja. Pasalnya, ada hati yang tersakiti di antara mereka; ada sosok yang—menurut saya—sebenarnya penting dalam film ini. Siapa? Nanti ya. Ah ya, maaf kali ini saya (terpaksa) spoiler. Jadi buat kamu yang tak suka dengan spoiler, sebaiknya jangan baca. Tapi kalau tetap mau baca ya silakan.

Di bagian awal saya suka sekali dengan Karmen. Wajahnya bercerita banyak dengan apa yang dilewatinya sebelum film ini dimulai—tentu dengan tambahan cerita dari Cinta dkk. Ya, tentang kehidupannya 14 tahun yang tak digambarkan dalam film ini. Sehingga saya jadi berharap kalau Karmen ini adalah tokoh penggerak cerita, dan memang dia punya ‘tugas’ seperti itu. Terbukti dia yang kali pertama melihat Rangga di Jogja, dia yang usul kepada kawan-kawannya tuk menceritakan itu kepada Cinta, dia pula yang punya alasan mengapa Cinta harus menemui Rangga karena masa lalunya yang pahit, serta dia juga yang bandel diam-diam mempertemukan Rangga dengan Cinta. Saya suka sekali dengan Karmen di film ini.

Saya terus disuguhkan kembali tokoh-tokoh dengan karakter yang masih tetap kuat—bisa dibilang ini mengenalkan kembali karakter-karakter Cinta dkk yang mengingatkan saya pada kelucuan dan persahabatan di film pertamanya. Hanya saja ketidakhadiran Alya—yang memang sejak trailer-nya rilis tak ada—membuat saya kecewa. Sebab, sejak ‘Ada Apa dengan Cinta?’ di tahun 2002 lalu Alya-lah tokoh yang saya sukai. Hehe. Dan yang lebih menyedihkan lagi Alya diceritakan meninggal dunia karena kecelakaan. Tak ada cara yang lainkah? Sakit, misalnya. Hiks.

Di bagian awal pula ada sosok yang tadi saya bilang penting, yaitu Tristan. Dia ini pacarnya Cinta; tunangannya Cinta, yang saat itu bilang, “Semalam saya melamar Cinta, dan jawabannya ... ya!” Saat itu saya bergumam dalam hati, film ini akan seru. Tentu saya tahu Rangga akan kembali ke Jakarta, tentang jurang kebodohannya yang ingin memiliki Cinta sekali lagi. Nah, kehadiran Tristan ini akan menjadi batu, bahkan bisa menjadi tembok tinggi dan besar buat Rangga. Kemunculan Tristan beserta dialognya itu yang membuat saya—mungkin juga penonton lain—berharap betul film ini akan menguras emosi atau katakanlah luapan perasaan. Tristan adalah jawaban juga buat saya. Sebab, saya juga bertanya, ‘Masa iya Cinta tak punya pacar atau pada akhirnya suka dengan lelaki lain setelah Rangga meninggalkannya bertahun-tahun?’ Ini juga jadi logika cerita terlepas apa pun alasan Cinta dekat dengan Tristan selepas Rangga.

Cinta dkk ke Jogja. Kalau tak salah ada urusan pekerjaan atau melihat pameran seni, tapi sekaligus liburan. Mereka semua sepakat tidak membawa pasangan. Ini masih masuk akal kok. Berangkatlah mereka. Dari New York Rangga pun ke Jogja. Nah loh kok kebetulan? Ya, ada kebetulan di sini, tapi kebetulan ini saya sukai. Sebab, menurut saya Rangga punya alasan kuat kenapa pada akhirnya dia balik ke Jakarta dan ke Jogja. Sebagai orang yang suka membuat cerita, saya pasti melakukan hal yang sama soal kebetulan seperti ini. Yaitu alasan yang kuat dari adanya kebetulan tersebut. Ada cerita tentang keluarga Rangga, terutama tentang ibunya yang harus Rangga temui.

Akhirnya Cinta bertemu dengan Rangga berkat Karmen meski awalnya Cinta menolak. Saya juga menunggu alasan kuat kenapa Rangga memutuskan dan meninggalkan  serta membiarkan Cinta sakit hati bertahun-tahun. Rangga yang memang sederhana saat itu malu melihat Cinta dari keluarga yang sangat mapan. Dia yang masih muda, bahkan bilang usia 23 tahun—sebenarnya sih tidak muda juga ya—hidupnya sedang berantakan, dan berpikir dia hanya akan membuat Cinta susah. Maka, Rangga memutuskan Cinta sebagai jalan keluar. Buat saya alasan itu cukup kuat dan masuk akal. Tentu sebagai lelaki yang hidup sangat sederhana dan sedang kesulitan, ketakutan yang dirasakan Rangga itu manusiawi. Apalagi dia menegaskan dia yang saat itu masih muda. Maka saya bilang, sebenarnya Rangga bukan jahat—meski dari sudut pandang Cinta bisa dibilang jahat. Dia hanya pengecut tak bisa atau berani menjelaskan itu kepada Cinta di waktu yang lalu.

Lantas Cinta dan Rangga jalan seharian penuh. Sampai akhirnya Cinta diantar ke vila oleh Rangga. Selama pertemuan itu saya tahu bagaimana perasaan Cinta. Tentu saja Cinta masih memiliki cinta kepada Rangga. Jelas sekali terlihat. Rangga pun tahu itu. Hehe.

Ah ya, Cinta dihadiahi puisi oleh Rangga yang dibuat saat perjalanan ke Indonesia. Buat saya, itu puisi pamungkas atau jagoannya, hanya saja menurut saya sound atau musik saat puisi itu dibacakan kurang klop. Entah kenapa musiknya tidak mendukung, padahal itu harusnya megang banget emosi penonton. Sayang sekali. Ya, puisi yang pada akhirnya Cinta tahu kalau Rangga masih menginginkannya, yang pada akhirnya membuat dia galau; melihat hatinya lebih dalam siapakah yang sebenarnya dia cintai.

Rangga menyusul Cinta yang pulang ke Jakarta dengan percaya diri kalau perempuan itu masih mencintainya. Perasaan cinta memang menuntut. Itulah yang terjadi pada Rangga. Dia ingin Cinta kembali bersamanya. Hanya saja Cinta menolak dan menegaskan ingin menikah. Tentu saja Cinta bohong. Akhirnya Rangga pergi kembali ke New York, dan sebelumnya berpapasan dengan Tristan yang mau menjeput Cinta.

Di bagian inilah si tokoh penting tidak dimainkan secara lebih. Tristan hanya minta penjelasan kepada Cinta yang akhirnya cerita tentang pertemuan dengan Rangga. Tentu saja Tristan kecewa. Tiba-tiba cerita berlanjut ke Cinta yang mengendarai mobil mengejar Rangga ke bandara, tentu saya tahu Cinta mau kembali kepada Rangga—penonton lain pun mungkin berpikir hal yang sama. Hanya saja yang membuat kecewa, tokoh Tristan yang penting ini tidak dimainkan sebagai batu atau tembok besar, dia hanya batu kerikil kecil yang mengganjal langkah Cinta dan Rangga. Padahal, film ini berdurasi 124 menit, artinya punya waktu yang sangat cukup untuk membuat adegan ... katakanlah Tristan marah-marah kepada Cinta atau terjadinya pertengkaran yang hebat antara keduanya; jadikan Tristan penghalang yang kuat. Atau dengan durasi itu bisa memilah mana bagian yang sangat penting dan bagian yang bila dihilangkan tidak mengurangi cerita itu sendiri. Tiba-tiba saja Cinta mengejar Rangga, dan saya dibiarkan menerka-nerka apa yang terjadi dengan Cinta dan Tristan sebelum itu. Padahal sebagai penonton saya butuh apa yang Tristan lakukan atau perbuat setelah tahu Cinta—sebagai calon istrinya—bertemu dan jalan bersama Rangga—mantan kekasih calon istrinya itu. Cinta meninggalkan Tristan begitu saja, kah? Tak ingatkah Cinta saat dia ditinggalkan oleh Rangga begitu saja?

Jadi, siapa yang jahat? Cinta atau Rangga?

Salam,
Ari Keling.

Ketika Si Jenius Patah Hati (Rudy Habibie: Habibie Ainun 2)

Sumber gambar atau poster : MD Pictures.
Film ini memang sudah saya tunggu lantaran trailer-nya yang menurut saya sangat menjanjikan, tentu jika dilihat dari kisah cinta antara Rudy dan Illona. Ya, dari cuplikan itulah rasanya film ini akan ‘megang’ banget emosi penonton dan bisa jadi membuat kita berkali-kali berusaha membendung air mata. Namun, sebelum menonton saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa Rudy dan Illona tak akan bisa bersama; mereka akan berpisah; ini kisah cinta mereka yang tak sampai. Lagi-lagi, semua itu saya tahu dari trailer atau cuplikannya, tentang perbedaan agama dan negara. Pun ini film prekuel Habibie & Ainun, jadi saya sudah tahu akhir kisah cinta Rudy dan Illona. Lantas mengapa saya tetap merasa film ini menarik dari sudut pandang romance atau kisah cerita mereka? Ya, tentu saya ingin tahu bagaimana kisah Rudy dan Illona yang bahkan hanya dari trailer-nya saja seperti saling mencintai dengan sangat hebat.

Sekali lagi, karena cuplikannya itu saya terlupa bahwa ini film bergenre drama tentang kisah muda sang visioner: Rudy Habibie sebelum dikenal sebagai teknokrat dan presiden Republik Indonesia ke-3: B. J. Habibie. Rudy ingin sekali membuat pesawat terbang. Dia pula ingin menjadi ‘mata air’ seperti pesan Papinya sebelum meninggal dunia agar berguna untuk orang banyak. Ya, bahkan film ini dimulai jauh sebelum Rudy sampai kuliah di RWTH Aachen, Jerman Barat. Awalnya menceritakan Rudy yang masih bocah dan hidup di Parepare, dan saat itu masih terjadi peperangan atau pengeboman oleh pesawat-pesawat penjajah—yang awalnya membuat dia membenci pesawat terbang. Saat Rudy sekeluarga dan para penduduk harus mengungsi mencari tempat yang lebih aman, yang paling saya ingat di saat genting itu dia bersikeras membawa pesawat mainannya dan sebuah buku. Sampai akhirnya dia sekeluarga ke Gorontalo karena memang Papinya berasal dari sana.

Di blurb film ini diberitahu pesan almarhum Papinya. Papinya meninggal saat menjadi imam salat sekeluarga; ketika sujud. Bagian ini sangat mengharukan. Ya, membuat seluruh penonton yang full dalam studio terdiam sedih—karena film ini ada uncur komedinya. Bahkan, saya pun diam-diam menahan sesak dalam dada. Mungkin karena saya tahu betul rasanya kehilangan seorang Bapak di saat usia masih terbilang sangat muda. Dan tentu, bagaimanpun kehilangan seseorang yang kita sayangi membuat sedih, yang pada akhirnya pula kita harus menerima. Ya, itulah hidup, setiap yang berjiwa pasti mati.

Kembali pada Rudy yang akhirnya kuliah di RWTH Aachen. Rudy hidup dalam kondisi terbatas, belajar tentang persahabatan, cinta, dan pengkhianatan bersama para mahasiswa Indonesia lainnya. Banyak konflik yang terjadi pada Rudy yang begitu ambisi dan percaya dengan cita-citanya: dari kelompok tentara pelajar Indonesia yang tak suka padanya, dari dia yang akhirnya berorganisasi dengan ikut Perhimpunan Pelajar Indonesia bahkan didaulat menjadi ketua PPI se-Eropa, dari dia yang akhirnya sakit tuberculosis tulang, dari dia yang akhirnya dikhawatirkan menjadi ancaman bagi Jerman karena Indonesia bukan bagian dari NATO; ditakutkan penelitiannya jatuh ke tangan komunis, sampai kalau tak salah dia ditawari pindah kewarganegaraan.

Saat Rudy mulai dikenal sebagai orang yang jenius, banyak gadis yang terpikat padanya. Muncullah Illona Ianovska, gadis Polandia yang memang sangat menyukai Indonesia dan pernah tinggal bersama orangtuanya di Marsawa. Padahal, sebelumnya Rudy mendapat perhatian dari gadis manis bernama Ayu—adik putri keraton Solo—yang sayangnya tak terlalu ditanggapi. Mungkin juga Rudy tidak peka. Hehe. Bisa dibilang cinta Ayu bertepuk sebelah tangan.

Rudy dan Illona jadi sering bersama setelah berkenalan. Saya sempat bingung bagaimana keduanya seperti tiba-tiba saja bisa menjalin hubungan asmara yang terlihat begitu kuat. Jika dilihat dari Rudy dan Indonesia, film ini sangat bagus. Namun jika dilihat dari cinta Rudy dan Illona, rasanya ada yang kurang dibangun sampai keduanya tampak memiliki cinta sebesar gunung. Sampai kemudian saya berpikir, ah soal perasaan memang rumit—ada perasaan hebat yang cepat tumbuh dan ada pula yang perlahan-lahan. Kira-kira seperti itulah. Atau ... mungkin karena Illona yang menyukai Indonesia dan kemudian bertemu dengan laki-laki Indonesia yang jenius. Mungkin juga karena hanya Illona, gadis yang sangat mendukung dan memercayai segala mimpi dan cita-cita Rudy. Ya, memang jika kita bertemu dengan seseorang yang percaya betul dengan semua mimpi-mimpi kita, cita-cita kita, segala kegilaan kita, betapa membahagiakan dan sulit sekali untuk dilepaskan. Atau memang barangkali kisah nyatanya seperti itu adanya.

Tibalah pada pilihan-pilihan. Mami Rudy menemui Illona, menjelaskan jika Illona benar-benar mencintai Rudy apakah dia bersedia pindah ke Indonesia dan menjadi Islam? Tentu tidak mudah. Illona yang benar mencintai Rudy sebenarnya tak paham betul apakah Rudy benar-benar mencintainya, sampai kemudian dia juga bertanya, apakah seorang Rudy pantas menerima pengorbanannya itu?

Seperti menemui jalan buntu. Illona pun mengajak Rudy untuk pergi bersama memulai kehidupan baru. Dengan kalimat lain, Rudy diminta memilih antara Indonesia atau Illona. Dengan berat hari Rudy melepas Illona. Selain dialog-dialog atau percakapan antara Rudy dan Illona yang bagus dan ‘romance banget’, saya akui ketika perpisahan mereka di stasiun pun punya ‘rasa’ yang cukup memukul dada dan membuat mata berkaca-kaca. Di saat terakhir itu pula tak lepas karena diiringi lagu yang dinyanyikan oleh Cakra Khan—Mencari Cinta Sejati—yang menjadi OST film ini.

Baiklah segitu saja. Kemudian kita menunggu Habibie & Ainun 3 dan kemungkinan ini prekuel keduanya.

Salam,
Ari Keling.

SURAT PENGANTAR NASKAH KE PENERBIT

Mengirim naskah fiksi maupun nonfiksi ke penerbit sebaiknya menyertai Surat Pengantar Naskah. Surat itu semacam salam kepada pihak yang ingin kita ajak kerja sama. Sederhananya begitu. Seperti hendak masuk ke rumah orang, kita bersopanlah. Nah, saya biasanya menyertai surat itu di badan e-mail jika mengirim naskah ke penerbit melalui e-mail. Contohnya seperti ini :


Bekasi, 1 Oktober 2013.


Kepada
Redaksi Penerbit Grasindo
Gedung Kompas Gramedia
Jl. Palmerah Barat No. 33-37
Jakarta 10270
Tlp. (021) 53698098


Dengan hormat,

Bersama ini saya kirimkan naskah fiksi berjudul  Pemilik Sepi.  Naskah novel ini sudah saya lengkapi dengan sinopsis dan biodata penulis.

Saya berharap akan segera mendapat kabar dari Grasindo mengenai layak tidaknya naskah tersebut untuk diterbitkan oleh Grasindo.

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.


Hormat saya,


Ari Keling.


Begitulah Surat Pengantar Naskah yang biasa saya sertai dalam mengirim naskah ke sebuah penerbit. Itu contoh ke Penerbit Grasindo. Jika kawan-kawan hendak mengirim ke penerbit lain, tinggal ganti saja nama dan alamat penerbit yang dituju.

Oke, Kawan-kawan. Semoga bermanfaat ya. Selamat menulis dan berkarya!
Salam,
Ari Keling.

Selasa, 07 November 2017

Mengenang Kenang


Ada seseorang yang berlari, tapi hanya mengejar kehampaan. Ada seseorang yang menanti, tapi tak ada yang kembali. Ada seseorang yang menunggu, tapi tak tahu siapa atau apa yang ditunggu. Ada seseorang yang rindu, tapi tak pernah sampai ke tempat tujuan. Ada seseorang yang berusaha mendekati cinta, tapi tak pernah mampu ia dapatkan. Ada seseorang yang berharap pada harapan yang tak bisa diharapkan.

Ada seseorang yang baru saja membaca tulisan ini, mungkin dia tengah mengalami keenam hal tadi.

Kadang kita lupa, mencintai pun ada batasnya.
_____________________________________________________

"Aku kira. Hanya aku yang bisa merasa sakit karena mencintai yang sudah bukan milikku. Ternyata ahh ...."

(Prilly Latuconsina, aktris, penyanyi, penulis buku '5 Detik dan Rasa Rindu').
_____________________________________________________

Ari Keling - Berpisah (OST buku Mengenang Kenang) : https://m.soundcloud.com/ari-keling/ari-keling-berpisah-ost-buku-mengenang-kenang


Ganteng-ganteng Setan

"Tentang lekong-lekong terong yang baru metong."

Dudo, cowok romantis. Egin, cowok nakal. Reno, cowok usil. Mereka mengalami cara mati yang anti mainstream. Mendadak mati dan lantas menjadi hantu adalah hal yang sangat mengejutkan. Bagaimana tidak? Selain belum siap untuk mati (emang udah ada yang siap?), mereka juga meninggalkan urusan kehidupan yang belum selesai.

Ketiganya adalah remaja ganteng yang populer di sekolah masing-masing. Dipertemukan di sebuah pemakaman, berkenalan, lantas berkawan. Selain punya urusan masing-masing dengan kehidupan sebelum mati, mereka jadi bisa melihat makhluk-makhluk halus. Tak mudah bagi mereka untuk memohon maaf kepada orang-orang yang mereka kenal, dan tentu sulit sekali menjalani hidup sebagai hantu yang takut pada hantu.

Mampukah mereka bertiga menuntaskan misi memohon maaf, lalu kembali ke makam masing-masing untuk menjalani kematian dengan tenang dan damai?

Lagu 'Mohon Maaf' OST Novel Ganteng-ganteng Setan : https://soundcloud.com/ari-keling/ari-keling-mohon-maaf-ost-novel-ganteng-ganteng-setan

-------------------------------------------------------
"Baca GGS kayak lagi nonton film bioskop rasa sinetron yang digarap Hollywood, dimainkan aktor Bollywood dengan subtitle Betawi. Kombinasi antara parodi, tragedi, komedi dan satir yang sederhana. Seru abis!"
Ceko Spy, penulis serial Miss Lebay, Script Editor Film, Drama & Sport Trans TV.

"Menarik sekali membaca karya terbaru Ari Keling. Sepert menikmati variasi rasa dalam sepaket imajinasi: kelucuan, kengerian, romansa, dan melankolistik. Pengarang berhasil mengolah semua elemen menjadi pakem horor komedi yang renyah, sederhana tapi berkelas. Keren. Baca Ganteng-ganteng Setan, bakalan baca lagi dan lagi deh!
Erry Sofid, penulis skenario film Pocong Ngesot, Pocong Rumah Angker, Kepergok Pocong, Kuntilanak Kesurupan, Nyi Roro Kidul Project, 3 Pocong Idiot)

Februari: Ecstasy

Mayang :
Napasku memburu. Bayangan Nugie mati di tanganku mulai berputar. Bagaimana aku bisa membunuh dia? Aku tumbuh besar bersamanya. Aku mencintainya.

Nugie :
Joya terus menatapku. Kutatap dia jauh lebih dalam, bila perlu sampai menembus hatinya. Biar aku bisa menetap di sana. Ya, aku harus bisa menguasai Joya.

Joya :
Kubakar ujung lintingan yang lebih besar, kuisap dalam-dalam asap organik itu. Sejenak aku lupa akan Nugie dan Mayang. Kalau aku boleh meminta, aku ingin melupa semuanya.
***
Mayang, Nugie dan Joya dicurigai sebagai pembunuh Sukoco, Sang Pemimpin Geng dan juga merupakan ayah Nugie. Si kembar Mayang dan Joya dibesarkan Sukoco setelah pria itu membunuh kedua orang tua mereka 12 tahun lalu. Tapi semua orang juga tahu, Nugie sangat membenci ayahnya sendiri. Hanya ada satu pemimpin yang boleh menguasai seluruh rusun. Mereka bertiga hanya punya dua pilihan, membunuh atau terbunuh.

____________________________________
Dengarkan atau unduh dulu lagu 'Tak Berbalas' ke sini : https://soundcloud.com/ari-keling/ari-keling-tak-berbalas-ost-novel-februari-ekstasi

TAK BERBALAS

Di bawah mendung yang menggantung
Aku tahu semua akan berkabung
Seluruh hatiku ini
Seluruh pikirku ini
Mengharu biru mati

Di bawah hujan malam ini
Aku sadar telah mencintamu
Sedalam-dalam hatiku
Sedalam-dalam pikirku
Sedalam-dalam aku

Aku tak lagi punya hati
Aku tak lagi punya mimpi
Aku tak lagi punya waktu
Aku tahu sudah sendu
Aku hanya air mata
Aku hanya luka-luka

Ku akan pergi detik ini
Sudah jelas tak berbalas
Biar segalanya lekas tuntas
Aku bebas lepas dari dirimu
Yang telah memilih dia
Dan tak pernah bisa mencintaimu seperti aku
Kita sama ... kita hampa hilang tanpa cinta

Kita tak lagi punya hati
Kita tak lagi punya mimpi
Kita tak lagi punya waktu
Kita tahu sudah sendu
Kita hanya air mata
Kita hanya luka-luka